Benarkah Politik Itu Kotor dan Kejam?

Jika kita mendengar kata politik, maka dalam benak kita yang kurang menyukai dunia politik akan tersirat dalam pikiran bahwa politik itu kejam.

Ya, jika memang kita lihat pada zaman sekarang ini khususnya para pemain politik di negeri kita ini banyak yang melakukan politik dengan cara yang cukup busuk. Terlalu banyak obral janji namun jarang sekali ditepati.

Tapi jika kita benar-benar berfikir kembali dan merenungi tentang politik apakah itu benar-benar kejam? Ataukah para pemainnya yang kejam dengan merusak nama politik?
Politik itu kejam

Jika memang tetap keukeuh berpandangan bahwa politik itu kejam, maka otomatis para mahasiswa jurusan ilmu politik di FISIP akan di didik menjadi calon orang-orang yang kejam.

Dan FISIP merupakan wadah di universitas yang akan melahirkan orang-orang yang kejam.

Tapi pada kenyataanya tidak bukan? Bahkan para mahasiswa jurusan Fisipol dan orang tuanya akan marah jika mereka dikatakan calon orang kejam.

Untuk itu sebenarnya bukanlah politiknya yang kejam, tapi cara bermain politik yang dilakukan oleh para pemain politik saat ini di negeri kita maupun di dunia kebanyakan menggunakan cara yang kotor. Sehingga mencoreng nama baik politik.

Politik itu sangatlah penting. Karena jika seseorang, apalagi dalam suatu negara tidak menggunakan politik, maka ia akan selalu ditindas oleh orang atau negara lain.

Junjunan kita Nabi Muhammad pun bisa menyebarluaskan agama Islam dan membangun negara menggunakan politik.

Tapi bedanya Nabi Muhammad, Beliau ini menggunakan politik untuk kemaslahatan agama Islam dan manusia di alam semesta ini pada umumnya.

Sehingga dalam masalah pelayanan publik, beliau sangat adil, tidak akan membedakan antara umat Islam dan non Muslim. Mereka diperlakukan sama tanpa dibeda-bedakan.

Untuk itu dalam suatu negara memang dibutuhkan sekali penerapan strategi politik yang tepat demi kemaslahatan bangsa dan negara. Bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan parpol saja yang banyak terjadi saat ini.

Dan yang paling menyebalkan bagi para pelaku politik saat ini adalah jika musimnya politik, mereka berbondong-bondong mendekati ulama dan pesantren hanya untuk sekedar numpang tenar dan memngeluarkan seribu janji.

Jika mereka sudah menang, mereka akan lupa dan tidak pernah melirik ulama dan pesantren lagi. Bahkan jika ada kritik dari sebagian ulama tentang kebijakannya, tidak jarang malah menjadikannya ulama yang mengkritik tersebut sebagai musuh yang harus diwaspadai.

Janji-janji yang diberikan saat kampanye seolah hanya pemanis saja demi mencapai tujuan mereka untuk saling berebut kursi kekuasaan.

Sedangkan saat mereka jadi dan mendapatkan apa yang mereka harapkan, mereka lupa bahkan enggan menepati janji manis mereka.

Hukum dipermainkan sehingga yang kaya dan banyak uang bisa membeli hukum sehingga bisa kebal dari hukum. Sementara rakyat kecil yang salahnya tak seberapa dibanding para pejabat, orang kaya beserta keluarganya diberikan hukuman yang sangat berat.

Itulah sebabnya kenapa banyak orang yang jadi beranggapan bahwa politik itu kejam dengan melihat kondisi politik di negeri kita saat ini.

Saling sikut sesama pemain politik, banyak mengeluarkan janji palsu, dan pada akhirnya mereka justru bertujuan memperkaya diri jika sudah jadi. Sehingga korupsi sangat sulit diberantas saat ini.

Semoga saja para pemain politik di negeri ini bisa berubah dan sadar serta merubah cara berpolitik mereka yang tadinya hanya untuk memperkaya diri dan kelompok parpolnya menjadi politik yang bisa mensejahterakan umat dan negara sehingga bisa sejajar derajatnya dengan negara maju.

Comments